Postingan

Menjadi Radikal atau Nothing

Hari ini aku ke Ungaran dimana disana ada sebuah undangan dialog terbatas yang membahas sebuah kebinakan yang perlu kejelian. Seorang dosen di sebuah universitas katolik, seorang analis hukum, dan dari sebuah organisasi lingkungan hidup menjadi pembicara. Sementara itu, saya dan beberapa teman dari pegiat LSM adalah pendengar selain mahasiswa yang diwajibkan ikut dalam dialog tersebut. Dialog tersebut membuatku sadar bahwa tuntutan petani atas tanah dan konflik yang muncul tidak mudah untuk dipecahkan. Sebuah kebijakan bisa berimplikasi perpecahan diantara pegiat agraria. Bagi mereka di basis konflik tanah, jalan radikal adalah pilihan tepat. Penindasan yang dihadapi telah membukakan mata mereka betapa tidak ada jalan bagi kompromi. Sementara di daerah yang damai lebih memilih alternatif yang moderat. Sebuah kebijakan berusaha akan dimainkan, seperti mundur selangkah untuk maju beberapa langkah, meskipun hasil akhirnya lebih banyak mengecewakan. Sementara, sisanya adalah pendukung ke...

Ibu adalah pohon rapuh

Ibu adalah pohon tua yang mencoba tumbuh lagi dalam rapuh yang datang Ibu adalah mesin tua yang coba diperbaiki dengan onderdil tua Ibu adalah lilin yang berharap terus menyala di perempat akhir batang Ibu adalah ranting  yang digerogoti ngengat dan renik dan mencoba tetap lekat di pohon Tapi harapanku kau tak jatuh dan tuhan mendengarkan pintaku sehingga menurunkan keajaibannya Ketapang, 13 Mei 2017

Konsep Hidup dan Kapitalisme

Pemain sepakbola kita tidak memiliki konsep bermain yang jelas.  Ini berbeda dengan tim luar negeri dimana kolektivitas bermain tim yang baik, sistematis, dll. -ucapan seorang komentator sepakbola Indonesia dalam final piala AFF 2016. Kemudian aku terangsang untuk berfikir dengan apa yang dimaksud komentator tersebut, "konsep bermain" dan kucoba bandingkan dengan "kebiasaan strukturil". Yang kumaksudkan adalah sebuah pola, sistem, budaya atau struktur dimana individu hanyalah bagian saja dari semesta yang ia diami. Sepenuhnya aku percaya dengan ucapan komentator itu, bahwa selama ini pemain kita terbiasa asal membuang bola ke depan dan berharap keberuntungan bola nyangkut pada teman. Kemudian juga kebiasaan menggiring bola dan menunjukkan skill individu, dan kebiasaan lain. Bola adalah permainan yang menunjukkan gejala kulturil massa sehari-hari. Ia bak cermin kehidupan massa sehari-hari, yang kebanyakan hidup kemudian menunggu rangsangan datang saja. Kita tidak ...

Relativisme Kultural : Anti-Marxis?

Seorang teman bercerita di warung kopi tentang keadaan lingkungan di lokasi isterinya yang beradat baginya 'nyeleneh'. Ia melamukan perbandingan dengan apa yang ia alami di desanya, baik soal adat menikah, mistik, bahkan beribadah. Dalam pikirannya, adat di rumah isterinya sangat kaku dan deso. Kemudian aku berfikir juga tentang bagaimana Ruth Bennedict yang menulis tentang tradisi Jepang dimana samurai dan bunga seroja adalah sesuatu yang eksentrik, dimana tradisi dan simbolisasi ini merupakan sesuatu yang secara mikroskopis benar. Dari dua orang ini aku menarik perbandingan bahwa, meskipun level akademisnya berbeda, mereka berdua mewakili tradisi relativisme kultural. Bahwa temanku yang menilai orang Wonogiri dan Bennedict yang memotret budaya Samurai, sama-sama memberikan penilaian tentang budaya tak dilihat dari bagaimana konteks ekopol yang berlaku di suatu wilayah.

Marxisme dan Refleksi Geopolitik Indonesia

Tiba-tiba ada keinginan  menulis dengan judul ini. Keinginan menulis ini barangkali muncul oleh sebab kuhidup dalam lingkungan Mataram yang darat-sentris, sementara kubaru saja membuat ensiklopedia kelautan yang berjudul,"Ensiklopedia Maritim". Barangkali tulisan ini hanya refleksi yang tak punya bobot apapun atau pretensi tertentu. Saya hanya mengharap akan ada 'loncatan ide', dari tulisan ini. Baiklah harus kita akui bahwa manusia Indonesia berasal dari dua garis yang berbeda seperti dikonsepkan oleh Alfred Wallace beberapa tahun lalu, yakni sebagian melayu dan sebagian austronesia.  Satu hal bahwa kita berasal dari daratan yang kemudian pecah secara geografis dan kemudian membuat kita secara ide dan lain-lain berbeda. Kemudian kondisi geografis ini tentu bukan sesuatu yang baik karena provinsi, bangsa atau lainnya membuat kita mudah diadu domba. Dengan alasan wilayah kita telah menjadi hitam dan putih yang tak bisa sama. Kenapa bangsa Indonesia juga ada bangsa Ja...

Mendedah Pernikahan dalam Kapitalisme

Aku telah menemui perempuan-perempuan yang bisa kucintai atau telah kucintai. Sementara dalam hukum manusia sebagai laki-laki aku harus memilih satu untuk dijadikan isteri. Aku pimir ini lucu, meski kadang juga ingin kumenjalin relasi dengan mereka berharap salah satunya akan kuperisteri. Hidup disanding kapitalisme dengan hukum-hukumnya berarti mengenali bagaimana lekuk-liuk dimana kita harus mencoba bersikap. Permodalan yang kuasa juga telah menguasai hubungan laki dan perempuan sebagai relasi ekonomi. Cinta laki-laki dan perempuan telah terdeterminasi di bawah sistem ini. Ini seringkali tidak kita sadari. Uang dan kepemilikan modal adalah prasyarat dimana relasi kuasa dan politik hubungan cinta terjalin. Properti dan kepemilikan kemudian adalah material yang menjadi ukuran seberapa mungkin mereka berkuasa atas orang lain/pasangan. Semakin kuat dan monopolis seseorang berelasi dalam kerangka kepemilikan ini, semakin dominan seseorang dapat mengarahkan hubungan cintanya mau kemana. ...

Selemah-lemahnya Kepercayaan.

Kesalehan yang halus tanpa kerikil perlu dicurigai. Kesalehan justru perlu dipelihara dan hanya mungkin lestari dengan merawat wajah bopeng agar tahu bahwa hidup ini ibarat dua keping uang logam. Yang mengaku moderat adalah yang memahami seluk beluk sehingga mampu melakukan kritisisme dan terus berdialektik dengan perlakuan halus dan kasar. Dan moderasi hanya mungkin sukses manakala dua sisi itu tidak hanya diketahui, tapi juga dipraktikkan.