Postingan

Apa kau pernah merasa tertinggal?

Saat mendongak ke atas dan ke sekitar, saya seringkali merasa ditenggelamkan waktu. sengaja saya tarik beberapa kejadian masa lalu untuk didedahkan saat ini. hasilnya, semua ternyata berubah, situasi dan kondisi tidak pernah sama dengan masa lalu. arus zaman terus bergerak maju/progress dalam tiap detik, menit, jam, dan seterusnya. kemudian saya berfikir apa yang mungkin dan tepat untuk saya lakukan dalam situasi dan keadaan seperti saat ini? saat-saat yang saya rasakan sangat kompleks sehingga terkadang merasa menderita karena kanan-kiri yang saling mendesak. ada perasaan saya yang tertinggal di belakang. ada orang yang menyalahkan, ada orang yang membodoh-bodohkan sikap dan tindakan saya. hidup dalam cibiran, sesal dan keterbatasan materi. saya berharap inilah hidup dalam pendulum yang tengah bergerak mundur, sementara mereka sedang bergerak dalam pendulum maju. At Kamar, saat tengah musim penghujan,  Salatiga, Februari 2015

Analisa Kelas Baru dalam Sistem Komunis Soviet

Munculnya kelas baru dalam masyarakat komunis Soviet seperti tertuang dalam buku yang ditulis Milovan Djilas berjudul, " The New Class ; An Analysis of the Communist System" telah begitu menarik perhatian saya. Bagi saya buku ini seperti buku yang ditulis John Rees tentang jalannya revolusi Oktober 1917 di Rusia berjudul, "Ten Days That Shook The World" . Kedua buku tersebut bagi saya sama-sama begitu mendalam membedah Soviet pada saat itu. Perbedaaannya barangkali adalah soal titik fokus, Rees pada pergolakan revolusi, sementara Djilas pada paska revolusi.  Baiklah, saya ingin memfokuskan pada buku Djilas saja yang terbitan ketujunya dicetak pada tahun 1957 oleh Frederick A. Praeger, New York. Buku Djilas, adalah buku saku yang saya dapatkan dalam bentuk fotokopi. Saya telah membelinya beberapa tahun lalu, dan baru kali ini saya luangkan waktu untuk baca dan menarik informasi atasnya. Baiklah kita mulai! Pertama-tama dalam penulisan buku ini Djilas beran...

KAMI MENUNTUT MANAJEMEN PERUSAHAAN PMS MEMENUHI HAK-HAK KAMI!

Inilah saatnya kami berkumpul kembali merapatkan barisan perjuangan menuntut upah layak yang menjadi hak kami. Para buruh tertindas oleh sistim kerja tidak manusiawi yang diterapkan PT Pelangi Makmur Sentosa Dusun Tegalsari, Kembang, Ampel, Kab. Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia. Kami adalah laki-perempuan yang dari waktu ke waktu menagih janji perusahaan untuk memenuhi hak dasar Upah Minimum Kabupaten/Kota.  Hari ini 2 Februari 2016 kami menyatakan tidak gentar dan mundur selangkahpun dari gertakan  aparat dan semua pihak yang berdiri memihak manajemen perusahaan. Bahwa kami yang bekerja merasakan batas kesabar-narimo ini sudah saatnya diakhiri. Pihak pengusaha dan manajemen sudah waktunya ditagih janjinya dan tidak bisa terus menerus membodohi kami dengan bayaran yang tak pantas! Urat-urat tangan dan tenaga kami yang menyadarkan jika hanya dengan jalan mogok, demonstrasi seperti yang saat ini kami lakukanlah, maka proses penindasan perusahaan ini dapat sementara waktu...

Frame Berfikir Marxian

Marxisme mendakwa situasi sosial/lingkungan yang akan menentukan kesadaran seseorang. Ini menjadi kunci yang memudahkan kita dalam mengetahui frame berfikir seseorang. Semisal dalam lingkungan sosial yang serba cukup, tak kekurangan seorang pengusaha akan berfikir liberal dengan ciri individualis, dll. Hal yang sebaliknya terjadi di kalangan buruh dimana situasi kerja dan upah yang sedikit akan menjadi komunal. Yang menarik adalah, bagaimana apabila dalam situasi tertentu terjadi sesuatu yang sebaliknya, apabila petani tak bertanah justru berfikir liberal misalnya. Nah, penyimpangan itu disebut false consciousness. Ini yang menjadi pokok bahasan Frankfurt School seperti yang dibahas oleh Walter Benjamin, Theodore Adorno, Habermas, dkk. Mereka masing-masing mereinterpretasi gagasan Marx yang tidak melihat bahwa faktor budaya adalah sumber masalah/ pokok bahasan yang penting. Dari paparan dua paragraf di atas, kita menangkap tiga kata kunci yakni, determinasi lingkungan, fal...

Drama Hidup Buruh-buruh Tani Perempuan

 S eorang buruh tani perempuan tanya padaku di sore itu, "Mas Arif bawon [a] buat saya berapa? Saya sudah membantu sedari pagi tadi." ucapan petani itu sontak menggagetkanku. Saya yang merasa tidak tahu apa-apa tercengang. Saat itu, posisi saya adalah kebetulan menjadi sopir bagi ayah untuk mengangkut hasil panen dari lahan ke rumah. Untuk urusan bawon , atau berapa bagian upah dalam pekerjaan panen, saya jauh dari memahami, sebab saya bukan petani.   Ayahku bisa disebut tuan tanah di desa kami, yang juga kebetulan tengah berpanen. Kenapa petani perempuan itu menanyakan padaku, bisa saya pahami, kenapa menanyakan bawon ke saya. Saat itu ayah sudah pulang karena hujan lebat, di sawah tidak ada yang berhak ia tanyai selain aku anak ayah. Sayang saya tak mampu menjawabnya. Saya takut salah jawab. Yang menjadi pikiranku, secara budaya ucapan seperti itu hanya mungkin diungkapkan oleh mereka yang terjepit secara ekonomi. Mereka tidak mungkin berani bilang begitu dalam keadaa...

A Dystopian Society

Distopia! Kita terperangkap menuju distopia! Tanpa ampun karena ini menyengsarakan namun kita tidak mau keluar dan secara tak sadar tengah menikmati kemelut situasi distopis tersebut. Duduk santai, setelah bekerja 8 jam menikmati televisi -menonton kompetisi menyanyi sehingga terlupa bahwa hal itu sama sekali tak penting. Atau kita dengarkan ilmuwan yang nampak hebat karena berdebat keras untuk membahas suatu kasus yang jauh dari kehidupan pemirsanya. Ah, ini nampak membosankan, namun anehnya rutinitas itu dilakukan berulang-ulang...

Tentang Proses Menuliskan Apapun

Tentang menulis adalah hal yang sangat berat saya rasakan apabila tanpa teknik, tanpa konsep berpikir yang jelas, dan tanpa arah alur mau dibawa kemana. Kita tidak tahu harus memulai dari mana, akan dijalankan seperti apa, bagaimana teks dalam perjalanan dan kapan harus berhenti untuk mengukur keadaan sampai akhirnya mampu menarik semua dalam kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal. Ya, menulis adalah sebuah kerja yang perlu untuk kita sistematisasi dari awal. Ia adalah kerja terorganisir yang tidak bisa anarkis semaunya sendiri karena teks adalah jalinan yang mempunyai mekanisme tertentu. Sekali lagi, menulis perlu dimulai semenjak dari awal dengan suatu optimisme bahwa dalam menuliskan sesuatu itu bakal ada kemungkinan menemukan suatu keadaan yang baru. Menulis menjadi proses yang harus dimulai dengan mencari fakta dan data yang perlu untuk saling dibenturkan dengan hal-hal yang bertentangan sehingga terjadi suatu kemungkinan akan eksplorasi hal baru. Itulah kepuasan dalam menulis se...